DEPARTEMEN
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
DINAS
PENDIDIKAN KABUPATEN JAYAPURA
MAKALAH
(PENELITIAN)
PERGAULAN BEBAS DI DISTRIK NIMBORAN
Diajukan
sebagai tugas ujian praktik bidang studi Sosiologi
Disusun Oleh : Kelompok I
|
1. AGARITA
CLARA WOMSIWOR
2.
ESTERLITA WANDI
3.
SENAS GRIAPON
4.
ORNIMUS ALFRED DAKA
5.
PETRUS YANUARING
6. AMIRUDIN
|
KELAS XII IPS 1
SMA
NEGERI 1 NIMBORAN
Tahun Pelajaran 2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas perlindungan dan
penyertaan-Nya, sehingga kami kelompok satu mampu menyelesaikan tugas penelitian
yang berjudul “Pergaulan Bebas yang Terjadi di Distrik Nimboran”. yang disusun
dalam bentuk makalah yang diselesaikan sesuai dengan waktu yang
diharapkan.Makalah ini merupakan hasil dari kerjasama kami,selama meneliti dan
memahami guna mempelajari dan mencari kejelasan tentang pergaulan bebas yang terjadi
di Distrik Nimboran.
Dalam era globalisasi ini, banyak sekali
terjadi perubahan-perubahan sosial.Perubahan-perubahan ini dapat berdampak
positif maupun negatif.Perubahan itu mulai terjadi pada diri
individu,kelompok,bahkan masyarakat.Maka itu berhati-hatilah dalam
menerima,bertindak,dan mengambil keputusan dalam menghadapi perubahan yang ada.
Terimakasih kepada KAPOLSEK NIMBORAN
bapak Sandry Hutabarat dan ibu Erni sebagai narasumber yang turut memberikan
sumbangsih dalam penyelesaian makalah ini. kami juga mengucapkan banyak
terimakasih kepada Bpk.Guru bidang studi pelajaran Sosiologi yang telah
mengajar, mendidik, dan memberikan motivasi yang tiada hentinya. Semoga apa
yang diberikan bapak kepada kami tidak
sia-sia dikemudian hari. Ucapan terimakasih juga kepada teman-teman sekalian yang telah membantu dalam
bertukar pikiran serta memberikan pendapat yang baik sehingga tugas ini dapat
terselesaikan.
Meskipun kami telah memberikan
upaya yang maksimal untuk menghasilkan tugas terbaik,namun kami juga menyadari
akan adanya keterbatasan,seperti ucapan “Tak
ada gading yang tak retak,tak ada mawar yang tak berduri”,untuk itu segala
kritik dan saran sangat kami harapkan
demi perbaikan dan peningkatan kualitas penelitian edisi berikutnya.
Terima
Kasih
Genyem,
Maret 2015
Kelompok
satu
‘
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul...........................................................................................
i
Kata Pengantar..................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................. iv
BAB I : PENDAHULUAN...................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.............................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah......................................................
1
1.3 Tujuan....................................................................... 2
1.4 Manfaat...................................................................... 2
BAB
II : PEMBAHASAN...................................................................... 3
2.1 Pengertian Pergaulan Bebas........................................... 3
2.1.1
Contoh Pergaulan Bebas........................................ 3
2.2 Pergaulan
bebas yang terjadi di Distrik Nimboran......... 4
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pergaulan Bebas................ 7
2.4 Dampak Negatif dari Pergaulan
Bebas............................ 10
2.5 Pencegahan....................................................................... 11
BAB
III : PENUTUP................................................................................ 14
3.1 Kesimpulan.................................................................. 14
3.2 Saran............................................................................ 14
Daftar Pustaka..................................................................................... 15
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini, pergaulan bebas memegang peranan penting sebagai problema masal yang
meresaahkan. Di era globalisasi
yang penuh kemajuan ini memberikan dampak yang sangat besar
diseluruh aspek kehidupan manusia, dimana dampak negatiflah yang sangat
berpengaruh besar.
Secara
garis besar, pergaulan bebas yang terjadi di Distrik Nimboran ini banyak sekali
terjadi pada kalangan remaja. Remaja adalah generasi penerus yang akan
membangun bangsa kearah yang lebih baik , yang mempunyai pemiikiran jauh
kedepan dan kegiatannya yang dapat menguntungkan diri sendiri, keluarga, dan
lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, remaja tersebut harus mendapatkan
pengertian khusus, baik oleh dirinya sendiri, orang tua, dan masyarakat
sekitarnya.
Pada makalah ini, kami
akan membahas pergaulan bebas yang terjadi di Distrik Nimboran.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Pengertian
pergaulan bebas
1.2.2 Pergaulan bebas
yang terjadi di Distrik Nimboran
1.2.3 Faktor yang
mempengaruhi pergaulan bebas
1.2.4 Dampak negatif
dari pergaulan bebas
1.2.5 Pencegahan
1.3 Tujuan Penelitian
Makalah penelitian ini
dibuat dengan tujuan agar masyarakat masa kini terarah pergaulan dan
hubungannya, yaitu dengan melakukan atau berpikir dan bertindak dengan
menggunakan akal sehat, agar remaja tidak terjebak didalam pergaulan bebas dan tetap membentengi diri dengan iman yang
kokoh.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat makalah
penelitian ini yaitu menjelaskan secara mendalam dan terperinci tentang pergaulan bebas yang terjadi di wilayah Distrik
Nimboran masa kini.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Pergaulan Bebas
Pergaulan bebas yaitu
kegiatan berhubungan atau berinteraksi dengan siapa saja yang bersifat bebas
tanpa memandang ras, usia, jenis kelamin, dan golongan tertentu. Dalam hubungannya
atau berinteraksi juga kadang akan berdampak positif dan negatif, sehingga
banyak orang yang sudah salah menyalahartikan hubungan tersebut.
Pergaulan bebas
berdampak negatif dipengaruhi oleh adanya keinginan individu yang ingin hidup
sendiri, bertindak sendiri tanpa mementingkan bimbingan dari orang lain dalam
hal ini orang tua, karena merasa dirinya sudah dewasa. Iapun ingin menikmati
hidupnya dengan hal-hal buruk yang dianggapnya itu hal baik. Pergaulan bebas
ini terjadi karena adanya perubahan sosial yang masuk dan diterima oleh
masyarakat, misalnya narkoba dan seks bebas.
2.1.1
Contoh Pergaulan Bebas
Adapun contoh dari
pergaulan bebas, sebagai berikut :
1).
Berpacaran, merupakan konflik pribadi. Misalnya, timbul karena minat yang
berlawanan, tidak ada keuletan, atau tidak ada kemampuan untuk mengemangkan
diri dan meluaskan hidup.
2).
Narkoba berhubungan dengan konflik agama, dengan mengenai hakikat dan tujuan
hidup, aturan-aturan yang bertentangan dengan agama. Selain itu juga terjadi
konflik di sekolah, antara lain berupa tidak dapat mengikuti pelajaran, tidak
lulus ujian, persoalan hubungan antarmurid dan guru, atau persoalan kedudukan
diantara teman-teman sebaya di dalam kelas. Dan terjadi pula konflik dengan
orang tua sendiri, konflik terjadi sebagai akibat situasi-situasi hidup bersama
dengan orang tua. Pengaharapan-pengaharapan orang tua dan kewajiban-kewajiban
seorang anak kepada kedua orang tuanya sulit sekali dijalankan bersamaan secara
serasi, misalnya harapan orang tua adalah anakrajin belajar, patuh terhadap
perintah, dan hanya mengerjakan pekerjaan yang diinginkan atau diharapakan oleh
mereka. Akan tetapi, kebanyakan anakmengerjakan pekerjaan yang tidak diharapkan
oleh orang tua mereka. Bagi anak, apa yang dilakukan dan dicobanya itu
semata-mata untuk mencari pengalaman dan dalam usaha untuk menemukan jati diri.
Lebih terperinci lagi dapat dilihat pada
pembahasan berikut ini mengenai pergaulan bebas yang terjadi di Distrik
Nimboran.
2.2 Pergaulan bebas yang Terjadi di Distrik Nimboran
Pergaulan
bebas itu terjadi karena adanya modernisasi. Modernisasi sendiri adalah suatu
proses menuju masa kini, ketika terjadi perubahan sosial budaya dan masyarakat
yang memperbaharui diri untuk mendapatkan karakteristik atau ciri-ciri oleh
masyarakat modern.
Kedua
pakar sosiologi Jhon Lewis Gallin dan Jhon Philip Gallin menyatakan bahwa
perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang diterima akibat
adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk,
ideologi maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat. Faktor
penyebab perubahan sosial yaitu faktor internal (dari dalam) dan faktor
eksternal (dari luar). Contoh salah satu faktor internal yaitu :
1. Penemuan-penemuan
baru
Faktor-faktor yang
menimbulkan penemuan-penemuan baru yaitu :
Ø Kesadaran
individu-individu atas kekurangannya yang ada dalam kebudayaannya
Ø Keinginan
untuk meningkat kualitas kehidupan
Ø Adanya
keuntungan yang diperoleh
2. Contoh salah satu
faktor eksternal yaitu :
Pengaruh
kebudayaan masyarakat lain seperti kontak langsung dengan masyarakat lain yang berbeda kebudayaan
dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial. Ini membuat individu tersebut
ingin menikmati hidupnya dengan berbagai hal yang dianggap baik olehnya tanpa
ia menyadari sebenarnya apa yang dilakukannya itu baik.buruk.
Menurut
hasil penelitian yang telah dihimpun dari pihak kepolisian bahwa di Distrik
Nimboran ini sudah sejak lama ditemukan kasus-kasus yang menyangkut dengan
pergaulan bebas, hal ini diketahui karena sering pihak kepolisian sektor Nimboran menemukan
kasus tentang seks pranikah. Para remaja mejadikan tempat-tempat yang sunyi dan
sepi untuk dapat “beraksi”, misalnya di ujung perkampungan, pondok-pondok,
kebun-kebun dan sebagainya. Berikut ini adalah data kasus dari bulan Januari –
Maret 2015 yang disajikan dalam bentuk
tabel.
Tabel 1.1 Data Kasus Bulan Januari – Maret 2015 yang
Diperoleh dari Hasil Wawancara dengan Pihak Kepolisian Sektor Nimboran.
|
No.
|
Jenis Kasus
|
Penyelesaian
|
Jumlah (Berapa kali)
|
Keterangan
|
|
1.
|
Pencurian
|
Lidik
|
1
|
Lidik
|
|
2.
|
Penganiayaan
|
Selesai secara
kekeluargaan dan pembuatan pernyataan
|
6
|
Pembuatan
Pernyataan
|
|
3.
|
KDRT
|
Selesai secara
kekeluargaan dan pembuatan pernyataan
|
5
|
Selesai
|
|
4.
|
Perzinahan
|
Selesai secara
kekeluargaan dan pembuatan pernyataan
|
1
|
Selesai
|
|
5.
|
Pengrusakan
|
Selesai secara
kekeluargaan
|
4
|
Selesai
|
Penjelasan Tabel :
Pada bulan Januari –
Maret 2015, terdapat 5 jenis kasus yang ditangani oleh pihak Kepolisian Sektor
Nimboran. Pertama, kasus pencurian berjumlah 1 kasus yang masih dalam tahap
penyelidikan. Kedua, kasus penaniayaan berjumlah 6 kasus, dimana kasus ini
telah diusut tuntas secara kekeluargaan dan pembuatan pernyataan. Ketiga, kasus
KDRT berjumlah 5 kasus yang telah dituntaskan secara kekeluargaan dan pembuatan
pernyataan. Keempat, kasus perzinahan yang berjumlah 1 kasus, dan sudah
diselesaikan secara kekeluargaan. Kelima, kasus pengrusakan yang telah
diselesaikan pula secara kekeluargaan.
2.3 Faktor yang mempengaruhi pergaulan bebas
Menurut Clyde Kluckhon,
nilai hakikat hidup manusia terdiri atas :
1) Masyarakat yang
menganggap hidup itu baik;
2) Masyarakat yang
menganggap hidup itu buruk;
3)
Masyarakat yang menganggap hidup itu buruk tetapi, manusia wajib berikhtiar
(berusaha) supaya hidup menjadi lebih baik.
Selain itu, dalam nilai
sosial menurut Prof. Notonegoro, pada nilai rohani (nilai moral) yaitu nilai
sosialyang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, bersumber dari kehendak
atau kemauan (karsa dan etika).
Terjadinya gegar budaya
(cultural shock) yang terdapat dalam dampak globalisasi yaitu goncangan jiwa
atau mental seseorang/sekekelompok orang
akibat belum adanya kesanggupan atau kesiapan.
Akibat
globalisasi, terjadilah konflik sebagai proses sosial, konflik dilatarbelakangi
oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu yang terlibat dalam suatu interkasi, misalnya
perbedaan fisik, kepandaian, pengetahuan, adat-istiadat, keyakinan, dan lain
sebagainya. Adapun dua hal utama pemicu konflik, yaitu :
a. Perbedaan individu
Setiap manusia adalah
individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang
berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan suatu
hal atau lingkungan yang nyata ini dapat
menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial,
seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
b. Perbedaan latar
belakang kebudayaan
Ada yang diasuh dengan
pola latihan kemandirianyang mendorong seseorang menjadi berani dalam mengambil
tindakan, tanggungjawab kritis, tetapi agak sedikit individualis. Ada pula yang
diasuh dalam lingkungan kebudayaan yang menerapkan pola ketergantungan. Dalam
hal ini seseorang akan cenderung bersifat kurang mandiri, menghargai orang
lain, bersahabat, dan cenderung tidak bersifat individualis. Dalam lingkup yang
lebih luas, masing-masing kelompok kebudayaan memiliki nilai-nilai dan
norma-norma sosial yang berbeda-beda ukurannya sesuai kebutuhan masyarakat
setempat. Perbedaan-perbedaan inilah yang dapat mendatangkan konflik sosial,
sebab kriteria baik-buruk, sopan tidak sopan, pantas tidak pantas, bahkan
berguna tidak bergunanya pola pemikiran masing-masing yang didasarkan pada
latar belakang kebudayaan masing-masing.
Jadi
berdasarkan uraian-uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi pergaulan bebas, sebagai berikut :
Ø Kurangnya
moral (watak, pikiran) yang dewasa untuk dapat menyikapi setiap alur kehidupan;
Ø Tidak
menaati norma-norma yang berlaku dalam masyarakat seperti norma agama, norma
adat-istiadat, norma hukum, norma kesopanan dan norma kesusilaan;
Ø Kurangnya
pengawasan dari orang tua atau sebaliknya tidak mengindahkan nasihat orang tua;
Ø Keinginan
untuk mencari kesenangan sendiri
Ø Imitasi
atau kegiatan suka meniru
Ø Ketidakpuasan
dengan cara hidup yang lama
Ø Mempunyai
rasa ingin tahu dan selalu ingin mencoba
hal baru
2.4 Dampak Negatif dari
Pergaulan Bebas
Pergaulan
bebas tersebut tidak memandang usia (tua-muda, besar-kecil dan sebagainya).
Oleh sebab itu, tanpa pengendalian diri yang signifikan maka dapat memicu suatu
masalah atau persoalan terhadap diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Hal
ini dapat dapat terjadi baik secara individu maupun kelompok yang tidak bisa
mengendalikan emosi sehingga dapat berakibat buruk.
Adapun dampak negatif
yang ditimbulkan dari pergaulan bebas, antara lain :
1).
Keretakan dan perceraian dalam rumah tangga yang terjadi akibat perkelahian,
dimana miras merupakan pemicunya
2).
Banyak pelajar maupun mahasiswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang
berikutnya karena berhubungan seks dibaah umur;
3).
Mengkonsumsi minuman keras sehingga mengakibatkan kriminal, sepetri pemerasan,
penganiayaan, pemerkosaan, dan sebagainya. Berikut ini adalah contoh pemerasan,
penganiayaan`dan pemerkosaan.
Ø Pemerasan.
Akibat mabuk, si A bisa melakukan tindakan-tindakan yang kurang baik seperti
pemalakkan di jalan raya.
Ø Penganiayaan.
Akibat mabuk, kehidupan rumah tanggapun tak berjalan semestinya.
Ø Remaja
wanita yang hamil pranikah menuntut pertanggungjawaban terhadap dirinya tetapi
si pria menolak dan tidak mengakuinya merupakan pemicu bentrok antardua
keluarga dari kedua belah pihak.
2.5 Pencegahan
Upaya pencegahan yang
dilakukan agar dapat terhindar dari pergaulan bebas dan dampak buruknya
terangkum dalam nilai-nilai sosial, sebagai berikut :
a. Klasifikasi nilai
sosial
Ø Nilai
kebenaran dan nilai empiris, yaitu nilai yang bersumber dari proses berpikir
teratur menggunakan akal manusia dan diikuti dengan fakta-fakta yang telah
terjadi (logika,rasio)
Ø Nilai
keindahan, yaitu nilai-nilai yang bersumber dari unsur rasa manusia (perasaan dan estetika)
Ø Nilai
moral, yaitu nilai sosial yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan,
bersumber dari kehendak / kemauan (karsa dan etika)
Ø Nilai
religius, yaitu nilai ketuhanan yang berisi keyakinan / kepercayaan manusia
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b. Peran nilai sosial
Ø Mengarahkan
masyarakat untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang
ada dalam masyarakat (berperilaku pantas), agar tercipta integrasi dan tertib
sosial.
Ø Motivasi
manusia untuk mewujudkan dirinya dalam perilaku sesuai dengan yang diharapakan
oleh peran-peran dalam mencapai tujuan
Ø Alat
solidaritas yang mendorong masyarakat untuk saling kerja sama demi mencapai
suatu tujuan. Dalam hal ini, nilai menuntut manusia untuk melakukan kerja sama
dan menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada.
Ø Pengawas,
pembatas, pendorong dan penekan individu untuk selalu berbuat baik. Pengawas
berarti nilai menjadi kontrol atas tindakan-tindakan yang dibatasi oleh
nilai-nilai yang ada.
Nilai hanya dapat
ditangkap dan dilihat melalui tingkah laku atau benda yang mengandung nilai itu
sendiri.
Pencegahan dapat pula
dilakukan melalui lembaga keluarga, pendidikan, dan lembaga agama sesuai dengan
fungsi dan perannya sebagai berikut :
1). Lembaga keluarga
Fungsi keluarga antara
lain, fungsi sosialisasi, dan fungsi efeksi (kasih sayang)
Ø Fungsi
sosialisasi
Keluarga
adalah lembaga sosial yang pertama dan utama bagi seorang anak, sebab dia
dilahirkan ditengah-tengah keluarga dan beberapa tahun lamanya diasuh dan
dididik oleh semua anggota keluarga yang ada, disitulah proses pembelajaran
nilai dan norma sosial (sosialisasi) dilakukan dalam keluarga dan dimulai sejak
lahir hingga dewasa.
Ø Fungsi
efeksi (kasih sayang)
Salah
satu kebutuhan dasar manusia adalah kasih sayang atau saling mencintai. Seorang
anak yang tidak menerima cinta kasih dari ayah dan ibu dan anggota keluarga
lainnya, dapat berkembang menjadi anak yang sering melakukan pelanggaran
terhadap norma dan nilai sosial masyarakat. Keluarga juga berperan besar dalam
membentuk kepribadian seorang anak melalui hubungan sosial.
Ø Lembaga
pendidikan
Robert Dreeben (1968), berpendapat bahwa
sekolah tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung tetapi sekolah
juga berperan dalam mengembangkan kepribadian seorang anak karena, selain
memperhatikan perkembangan intelektual, tetapi juga perkembangan jasmani dan
mental anak tersebut, serta mengajarkan budi pekerti luhur, tata cara
berinteraksi serta cara-cara membentuk kepribadian yang baik.
Ø Lembaga
agama
Beberapa
ilmuwan seperti Ligt, Killer, dan Calhoun (1989) mengatakan bahwa setiap ajaran
mempunyai praktik keagamaan, mislanya shalat, puasa, kebaktian, bersemedi, dan
praktik lainnya.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pergaulan bebas adalah
bergaul / berinteraksi dengan siapa saja tanpa memandang usia atau pekerjaan.
Dalam pergaulan bebas juga memberikan dampak positif dan negatif. Perkembangan
IPTEK di era globalisasi ini membuat banyak orang yang
hidup tanpa mementingkan orang lain, dan ingin menikmati hidupnya sendiri
dengan berbagai macam hal-hal yang buruk.
Hal ini menunjukkan
bahwa nilai dan norma yang terkandung dalam diri individu,, keluarga maupun
masyarakat sudah semakin rusak.
3.2 Saran
Berdasarkan
kesimpulan yang telah dibahas sebelumnya maka disarankan kepada setiap individu
agar lebih jeli dalam menyikapi setiap perubahan yang selalu bergulir dari
waktu ke waktu, karena setiap perubahan itu sangat berdampak di seluruh aspek kehidupan, dan remaja
Indonesia merupakan “kompas masa depan” bagi generasi berikutnya yang cerdas dan berpikir sercara rasional
harus mampu bersaing di segala bidang dan mempunyai ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
Daftar
Pustaka
Muin,
Idianto. 2007. Sosiologi Untuk SMA/MA.
Edisi Pertama. Jakarta. Erlangga
Muin,
Idianto. 2007. Sosiologi Untuk SMA/MA.
Edisi Kedua. Jakarta. Erlangga
Muin,
Idianto. 2007. Sosiologi Untuk SMA/MA.
Edisi Ketiga. Jakarta. Erlangga